Niat Puasa Ramadhan

Niat puasa ramadhan menjadi pokok bahasan yang penting untuk dikaji lebih mendalam. Pasalnya, bab tersebut mengandung banyak makna. Oleh sebab itu, di bulan ini biasanya banyak dibuka pesantren kilat yang menyediakan tempat bagi orang-orang untuk belajar.

Bacaan Niat Puasa di Bulan Ramadhan

Bagi setiap muslim wajib hukumnya mengkaji dan memperdalam pengetahuan mengenai agama. Termasuk didalamnya mempelajari niat ibadah puasa di bulan ramadhan, mulai dari doa, arti serta makna yang terkandung pada lafadz tersebut.

Berdasarkan redaksi yang bersumber dari kitab Raudhah al-Thalibin karya Imam al-Nawawi niat puasa ramadhan yaitu  “Nawaitu shouma ghodin ‘an adaai fardhi syahri romadhoona haadzihis sanati lillahi ta’ala”. Ini merupakan lafadz paling banyak diucapkan umat muslim di Indonesia.

Sebenarnya lafadz tersebut dibuat oleh Imam al-Rafi’i Quzwaini dan diarsipkan dalam kitab berjudul Fathul “aziz bi syarhi al wajiz. Dalam buku ini banyak membahas mengenai syarat niat puasa. Kemudian redaksi itu tulis ulang oleh Imam al-Nawawi sehingga dikenal banyak orang.

Makna dari Niat Puasa di Bulan Ramadhan

Niat puasa bukan hanya sekedar lafadz biasa, karena dibalik setiap bacaannya terkadang arti. Mengucapkan niat menjadi wujud kesungguhan seseorang untuk menjalankan ibadah dan bukti kepatuhan orang tersebut terhadap perintah Allah SWT.

Mengucapkan niat bagi semua muslim merupakan hal penting. Pasalnya, ibadah seseorang dinilai dari ikrarnya. Hal tersebut sesuai dengan sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari,  Rasulullah bersabda bahwa amal perbuatan tergantung tekad tujuannya.

Pada dasarnya niat berpuasa ramadhan tidak hanya dinilai dari melafadzkan bacaan tertentu saja. Melainkan juga diikuti dengan kemantapan hati dalam menjalankan kewajiban dan berkomitmen untuk taat kepada perintah serta larangan untuk menjauhi hal-hal yang dilarang Allah SWT.

Hukum Membaca Niat Puasa di Bulan Ramadhan

Mungkin masih banyak diantara Anda yang bertanya, bagaimana hukum ketika seseorang tidak membaca niat puasa di bulan ramadhan?. Maka jawabannya ibadah tersebut tidak sah. Hal tersebut merujuk dari hadits dari beberapa periwayat seperti Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasai dan Ibnu Majah.

Perlu dipahami bagi semua muslim bahwa salah satu dari tiga syarat sahnya puasa ramadhan yaitu niat. Hal tersebut dijelaskan langsung oleh Syekh Abu Bakar Jabir al-Jaza’iri. Informasi selengkapnya mengenai ini bisa Anda baca dalam kitab berjudul Minhajul Muslim .

Hukum penetapan membaca niat adalah kewajiban juga dilandaskan dari hadits riwayat Ad-Daruquthni dan Al- Baihaqi. Dimana disitu disebutkan bahwa Rasulullah bersabda barangsiapa belum melafadzkan ikrar di malam hari sebelumnya sampai imsak’, maka tidak ada puasa untuk orang tersebut.

Waktu Sah Melafadzkan Niat Berpuasa di Bulan Ramadhan

Setelah mengetahui bahwa hukum melafadzkan niat berpuasa ramadhan itu wajib, lalu kapan waktu yang paling tepat mengucapkannya?. Menurut kesepakatan sebagian besar ulama yang dikutip dari Indozone, ikrar tersebut sebaiknya dibaca setelah maghrib sampai waktu imsya’ (sebelum fajar terbit).

Waktu mengucapkan ikrar berpuasa di bulan ramadhan memang terbilang panjang. Namun, sebagian besar ulama mengatakan sebaiknya niat tersebut dibaca ketika makan sahur dan sebelum waktu adzan subuh atau fajar terbit.

Menurut madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali, para ulama menyepakati bahwa niat berpuasa ramadhan itu perlu dilakukan secara kontinyu artinya harus dibaca setiap hari. Hal itu karena ibadah bersifat mustaqillah atau independen, jadi tidak cukup hanya dilafadzkan sekali saja di awal bulan ramadhan.

Adab Membaca Niat Berpuasa

Apakah niat berpuasa harus diikrarkan dengan bersuara?. Pasti banyak orang penasaran akan hal ini. Sampai sekarang masih banyak ulama yang berbeda pendapat mengenai persoalan tersebut. Namun, itu semua tidak perlu dijadikan masalah besar.

Menurut beberapa sumber literatur dijelaskan bahwa mengucapkan niat berpuasa di bulan ramadhan merupakan hal penting karena menjadi syarat sah. Hal tersebut harus diikrarkan dalam hati. Sedangkan melafadzkan secara lisan hukumnya boleh atau sunnah.

Penjelasan mengenai niat berpuasa cukup di dalam hati saja merujuk pada pendapat Imam Nawawi dalam Al-Majmu (II,23). Hal senada juga ditemukan dalam kitab berjudul I’anatut Thalibin yang dimana dikatakan bahwa melafadzkan ikrar secara lisan tidak disyaratkan.

Demikianlah ulasan lengkap mengenai bacaan, hukum, makna, adab dan waktu tepat melafadzkan niat buka puasa. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan. Terutama bagi Anda umat muslim yang ingin mempelajari lebih mendalam seputar bab tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar